Genggam Tanganku, Jangan kau lepas
Ini tentang penerimaan yang katanya berat untuk dilewatkan
Mari kita urai dengan tulisan
Siapa tau bisa mewakilkan
Adalah matamu yang pertama kali merobek keheningan
Membuat riuh detak jantungku menjadi tak karuan
Bola mata kita bertemu
Pandangan kita bersatu
"Hai" katanya
Wajahnya tersenyum, manis sekali
Mudah sekali dia memporak-porandakan semesta yang kubangun setengah mati
Sia-sia saja
Olehmu, semuanya hancur berantakan, berserekan, berhamburan
Kau tahu, menenangkan debar didada untuk tak jatuh hati, adalah hal paling menyebalkan
Sayangnya, hatiku tak setegar karang di lautan
Malangnya, aku hancur berantakan
Faktanya, olehmu, hatiku kembali dihidupkan
Hebat sekali, kau berhasil membuat aku jatuh hati
Tiba-tiba kau coba mampir ke rumah batinku
Kau ketuk pintu batinku dan berdendang menyebut namaku
Aku tau itu kau
Kucoba lagi menenangkan hati
Membuka lembaran lagi
Tapi?
Kau kemana?
Hey! Jangan dulu pergi
Bagaimana dengan rindu yang mencekik pada sela malam?
Bagaimana dengan pipiku yang merah merona tatkala kau menatapku serta menyapaku?
Bagaimana dengan perasaan ini?
Tolong, bangunkan aku
Percayalah, aku tak ingin jika kembali jatuh hati, sendiri, lagi
Kemarilah, duduk disebelahku
Kita habiskan waktu
Kemarilah, berjalanlah bersamaku
Sampai habis sang waktu
Tak usah terburu-buru
Ada aku, disebelahmu
Lalu kau pamit untuk pergi
Menyisakan wewangi yang penuhi udara di malam hari
Juga rindu dan kasmaran yang kau berikan
Tolong tanggung jawab
Sungguh, rasa ini terlalu indah tuk dinikmati sendirian
Ku tanya kau sekarang
Puas kau menyaksikanku kasmaran?
Puas kau cipta pipi merah merona kala kau menatapku, serta menyapaku?
Puas kau ciptakan rindu?
Padahal jumpa kita amat sederhana
Hanya jumpa dua manusia terluka
Yang ingin kembali menata bahagia
Lalu bahagia bersama
Lalu berjalan beriringan bersama
Lalu aku menyayangimu tanpa karena
Lalu siap merangkai kisah bersama
Tapi
Semesta,
Aku takut
Ditinggal sendiri lagi.
Komentar
Posting Komentar