Hold Me; i'm with you


Meski aku tak dapat menjadi pena untuk ukir bahagia, namun aku pastikan, aku selalu menyertai dalam suka, maupun duka.

Percakapan tadi sore yang singkat, namun menyayat. Katanya.

"Aku patah, aku sakit, aku lumpuh, aku hancur, aku gak berguna, aku gak diinginkan." Katanya.
Lalu aku jawab
"Kamu harus tau satu hal bahwa..."
"Apa!? Apalagi!? Bosan aku dengan kalimat nasehat yang tak pernah mendewasakan. Kalimat apalagi yang mampu menghiburku!? Sampah!"
Aku tersenyum.
"Kamu harus tau satu hal bahwa, selalu ada kekuatan disetiap kelemahan. Selalu ada kekuatan ketika patah sekalipun, ketika hancur sekalipun, bahwa segala sesuatu yang patah, nantinya akan tumbuh, menjadi lebih kuat, menjadi lebih besar. Bahwa segala sesuatu yang hancur, dapat membentuk kepingan yang baru, menjadi kekuatan baru. Semua sakitmu, itu akan berlalu."
"Apa waktu yang akan jawab semuanya?" "Bukan"
"Lalu?"
"Proses dalam waktu lah yang mampu ubah segalanya."
"Aku percaya"
"Boleh sedih, tapi jangan berlarut ya. Kamu kuat, kamu berharga."
Ia akhirnya tersenyum, aku juga.
"Boleh peluk?"
"Tenang aja, gratis."

Pada akhirnya, sebuah sabar akan menghantarkan mereka pada garis yang membuatnya merasa berharga. Sebagaimana ranting yang yang patah mampu tumbuh, menjadi batang yang kuat menopang, menjadi tegak berdiri, serta tak akan goyah meski terkena badai berkali-kali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbuh

Melo Is My Nature

Move On, please!