Judulnya "Aku"
Aku dengan ketidakberdayaan ku hadir disela riuhnya dunia
Aku dengan ketidakberdayaan ku berada dititik sudut sangkakala
Bagai debu yang terhempas, melayang, terbang di luasnya Bimantara
Aku, dengan segala kelemahan ku
Ingin menulis, ketika milyaran suara kian memekikan telinga
Aku, dengan segala kelemahan ku
Mencoba tersenyum ketika sendu datang mengganggu
Mencoba bangkit, ketika dunia menjatuhkan ku dengan pahit
Aku, hanyalah manusia
Aku datang dengan segala ketidakberdayaan
Separuh jiwa ku berantakan
Aku, hanyalah manusia
Kemarin, aku terbang terlalu tinggi, hingga aku lupa caranya membumi
Aku lupa, bahwa rumah yang sebenarnya adalah, bumi yang sedang aku pijaki
Aku lupa caranya merunduk, bersimpuh, bersujud mencium bumi
Aku terlampau jauh, hingga tak terlihat lagi
Aku, hanyalah manusia
Aku juga manusia
Aku menangis, tertawa, jatuh, bangkit, hancur, berantakan, lalu utuh
Aku hancur, bila terus dipukul
Aku menangis, jika terkena tikaman sadis
Aku jatuh, bila terus didorong jauh
Aku hancur, berantakan, bila terus dipukul dan ditekan
Aku, ada dengan kepingan diri yang utuh
Lantas, tega kah membuat aku hancur (lagi)? Gapai aku, ketika aku terlalu mengangkasa
Raih aku, ketika aku berada di jurang nestapa
Ingatkan aku, karena aku begitu pelupa
Tampar aku, terkadang aku terlewat jumawa
Aku, hanyalah manusia
Tak ada salahnya kan, belajar lagi menjadi periang?
Selepas badai yang keras menghadang
Tak ada salahnya lagi kan, belajar percaya?
Selepas menelan kecewa
Tak ada salahnya kan, belajar lagi berjalan?
Selepas lumpuh berkepanjangan
Tak ada salahnya kan, belajar lagi tertawa?
Selepas dipecundangi dunia
Aku, hanyalah manusia
Aku ingin kembali waras selepas gila
Aku ingin kembali selepas lewati sendu yang panjang
Aku ingin kembali percaya selepas kecewa
Aku ingin tertawa selepas tangis
Aku ingin berjalan lagi
Aku ingin utuh selepas patah
Aku, hanyalah manusia
Aku dengan ketidakberdayaan ku berada dititik sudut sangkakala
Bagai debu yang terhempas, melayang, terbang di luasnya Bimantara
Aku, dengan segala kelemahan ku
Ingin menulis, ketika milyaran suara kian memekikan telinga
Aku, dengan segala kelemahan ku
Mencoba tersenyum ketika sendu datang mengganggu
Mencoba bangkit, ketika dunia menjatuhkan ku dengan pahit
Aku, hanyalah manusia
Aku datang dengan segala ketidakberdayaan
Separuh jiwa ku berantakan
Aku, hanyalah manusia
Kemarin, aku terbang terlalu tinggi, hingga aku lupa caranya membumi
Aku lupa, bahwa rumah yang sebenarnya adalah, bumi yang sedang aku pijaki
Aku lupa caranya merunduk, bersimpuh, bersujud mencium bumi
Aku terlampau jauh, hingga tak terlihat lagi
Aku, hanyalah manusia
Aku juga manusia
Aku menangis, tertawa, jatuh, bangkit, hancur, berantakan, lalu utuh
Aku hancur, bila terus dipukul
Aku menangis, jika terkena tikaman sadis
Aku jatuh, bila terus didorong jauh
Aku hancur, berantakan, bila terus dipukul dan ditekan
Aku, ada dengan kepingan diri yang utuh
Lantas, tega kah membuat aku hancur (lagi)? Gapai aku, ketika aku terlalu mengangkasa
Raih aku, ketika aku berada di jurang nestapa
Ingatkan aku, karena aku begitu pelupa
Tampar aku, terkadang aku terlewat jumawa
Aku, hanyalah manusia
Tak ada salahnya kan, belajar lagi menjadi periang?
Selepas badai yang keras menghadang
Tak ada salahnya lagi kan, belajar percaya?
Selepas menelan kecewa
Tak ada salahnya kan, belajar lagi berjalan?
Selepas lumpuh berkepanjangan
Tak ada salahnya kan, belajar lagi tertawa?
Selepas dipecundangi dunia
Aku, hanyalah manusia
Aku ingin kembali waras selepas gila
Aku ingin kembali selepas lewati sendu yang panjang
Aku ingin kembali percaya selepas kecewa
Aku ingin tertawa selepas tangis
Aku ingin berjalan lagi
Aku ingin utuh selepas patah
Aku, hanyalah manusia
Komentar
Posting Komentar