Secangkir Asa
Tentu hidup kita tak akan pernah terlepas dari jerat masa lalu. Banyak yang bilang, kamu terbentuk dari sebuah pengalaman, atau pengalaman akan membentuk dirimu dimasa depan. Aku rasa tak ada yang salah dengan kalimat itu. Pun ketika kamu mulai asyik bercerita perihal nona berparas manis yang pernah membuat hidupmu merekah begitu indah. Tak ada yang salah. Pun tak pernah ada yang salah ketika aku yang dengan sengaja menaruh asa disetiap jumpa kita, disela tawa, bahkan disetiap alur cerita yang selalu kamu bawa. Kita mengerti bahwa sebuah rasa adalah naluri paling alami setiap manusia. Kamu tau, bahwa kamu tidak akan pernah bisa memilih untuk jatuh hati kepada siapa, kamu tau bahwa ada campur tangan Tuhan ketika kamu mulai menjatuhkan rasa kepada insan yang dikehendaki-Nya. Hanya satu hal yang sering kita lupa, bahwa jatuh hati berbuah bahagia adalah bonus, dan sakit hati adalah resiko. Jadi, jangan lupa siapkan wajah paling berseri untuk menutupi luka yang terlampau perih dihati.
Kamu tau bahwa menahan debar didada untuk tak saling suka adalah hal yang paling menyebalkan. Bisakah sedikit memahami, bahwa ada aku disini? Bukankah nona berparas manis itu telah memilih pergi dan tak akan kembali? Lalu aku ini apa?
Atas sebuah rasa yang tak bernama, izinkan aku berperan didalamnya. Menepis tiap ragu yang selalu kau ucap, membangun sebuah ikatan yang sering kamu harap, dan senantiasa dikuatkan melalui doa yang tak hentinya terucap. Maka, biarkan aku, boleh?
Izinkan aku memapah ketika hidup memaksamu sulit untuk melangkah, izinkan aku menjadi rumah, tempatmu bersandar, merebah, hingga berkeluh kesah, izinkan aku menjadi bagian dari kisahmu, paling tidak, sederhananya, kamu disini, maka akan aku buatkan secangkir kopi jika tak mau, mari kita pergi ke kedai kopi. Aku ingin mendengar ceritamu, lagi, boleh?
Kamu tau bahwa menahan debar didada untuk tak saling suka adalah hal yang paling menyebalkan. Bisakah sedikit memahami, bahwa ada aku disini? Bukankah nona berparas manis itu telah memilih pergi dan tak akan kembali? Lalu aku ini apa?
Atas sebuah rasa yang tak bernama, izinkan aku berperan didalamnya. Menepis tiap ragu yang selalu kau ucap, membangun sebuah ikatan yang sering kamu harap, dan senantiasa dikuatkan melalui doa yang tak hentinya terucap. Maka, biarkan aku, boleh?
Izinkan aku memapah ketika hidup memaksamu sulit untuk melangkah, izinkan aku menjadi rumah, tempatmu bersandar, merebah, hingga berkeluh kesah, izinkan aku menjadi bagian dari kisahmu, paling tidak, sederhananya, kamu disini, maka akan aku buatkan secangkir kopi jika tak mau, mari kita pergi ke kedai kopi. Aku ingin mendengar ceritamu, lagi, boleh?
Komentar
Posting Komentar