Semua Orang akan Melupa pada Waktunya

Perkenalan kita dimulai ketika aku, adalah seseorang yang mungkin saja hampir kehilangan arah. Kehilangan arah untuk kembali percaya, kehilangan selera untuk kembali mencinta, namun tak pernah lupa cara tertawa, meski aku tau, tawa itu, hanya sekedar topeng untuk menutup segala luka.

Lalu, sore itu kamu datang. Mencoba meraih aku, ketika aku berada dalam jurang nestapa. Menjadi kompas ketika aku kehilangan arah. Menggenggam ketika aku tak sanggup berjalan. Satu yang aku selalu ingat. Kamu, adalah manusia yang berhasil kembali memanusiakan ku. Meski sebelumnya, kamu mesti banyak bersabar karena aku terlewat batu. Tetapi, tak pernah selangkah pun kamu pergi. 
Sejak saat itu, aku, kembali menjadi manusia.

Kamu yang menggenggam erat tanganku ketika aku hampir menyerah. Ketika aku takut. Ketika aku hilang arah. 
Kamu yang mengusap kepalaku ketika aku mulai terlihat marah. Ketika raut wajah tak lagi menyenangkan. Kamu, yang menganggap katanya aku ini istimewa.

Sejak saat itu. Aku, kembali menjadi manusia, yang manusia.
Aku, merasa aku berada.
Aku, merasa aku ditemani.
Aku, merasa aku dihargai.
Aku, merasa aku yang paling beruntung di muka bumi.
Aku, adalah manusia sejati.

Waktu terus berlalu.
Entah mengapa kamu juga perlahan berlalu.
Aku tidak tahu.
Apakah bosan melandamu? 
Atau aku yang terlalu batu lalu membuatmu jenuh dan ingin berlalu? 
Kamu yang membuat aku belajar menyelesaikan masalah.
Walau aku tidak tahu, apa dasar masalahnya.

Sedih. Bersedihlah hati.
Akhirnya aku tahu.
Sebenarnya, semua hanyalah semu.
Aku, bukanlah yang kamu tuju.
Ada dia yang sedang menunggu.
Entah aku yang lugu
Atau kamu yang berhasil mencuri hatiku.
Aku, akhirnya kembali menikmati pilu.

Sedih. Bersedihlah hati.
Terimakasih sudah membuat aku merasa dihargai.
Meski pada akhirnya, kamu memilih pergi.
Terimakasih sudah menjadi baik.
Meski akhirnya, ternyata, baik saja tidak cukup.
Terimakasih telah mengukir luka.
Yang aku harap, seiring waktu, akan tiba saatnya melupa.

Sedih. Bersedihlah hati.
Kini, tinggal aku merawat luka ini lagi.
Seorang diri.
Tak apa.
Semua orang akan melupa pada waktunya.
Entah, kapan.
Tetapi,
Satu yang pasti.
Aku, belajar lagi untuk menjadi manusia, yang manusia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbuh

Melo Is My Nature

Move On, please!